Senin, 22 Mei 2017

The birth story of El Zhafran Najendra


Masih terekam jelas moment Indah proses kelahiran El 2 minggu lalu. Hampir tidak percaya akhirnya aku bisa mengalami sebuah persalinan homebirth yang nyaman dimana diriku terkoneksi dengan tubuh dan bayiku setelah mengalami serangkaian perjalanan yang cukup dramatis di persalinan yang pertama. 

Berbagai plan sudah kami persiapkan.  Dari persalinan di Rumah Bersalin,  Rumah Sakit,  bahkan home birth yang inshaAllah kesemuanya dipersiapkan secara gentle. Belajar dari pengalaman pertama yang terlalu yakin tanpa mempersiapkan kemungkinan lain yang terjadi,  kali ini aku lebih memilih pasrah atau legowo dan berserah pada Allah SWT.  Sebuah evaluasi yang aku ambil dari kisah sebelumnya. 

Gentlebirth adalah sebuah filosofi dalam persalinan yang tenang, penuh kelembutan dan memanfaatkan semua unsur alami dalam tubuh seorang manusia. Proses persalinan yang tenang, lembut, santun dan minum trauma ini adalah sebuah pendekatan dalam proses kelahiran alami yang menggabungkan nilai-nilai dan keyakinan yang dianut oleh wanita itu sendiri (bidankita. com)

Minggu (7/5) aku masih disibukkan dengan rutinitas seperti biasanya dengan diiringi gelombang Cinta palsu yang timbul tenggelam serta secercah flek darah berwarna merah tua. Gak nyangka pagi itu tetiba aku kedatangan 2 tamu penting Bidan Arifatun dan Bidan Nanda Ira Novita,  doula-doula hebat yang merupakan salah satu dari 3 persiapanku menghadapi kelahiran El. Gak mau berharap banyak bisa melahirkan di rumah,  cukup berkeyakinan "Kalo jodoh ga lari kemana". Kedatangan mereka sebenarnya hanya ingin menyalurkan hormon oksitosin alias chit chat saja karena kami memang berteman. Tapi pagi itu melihat perutku yang sangat 'mancung' kedepan, tiba-tiba Bidan Ari meminta stagen untuk mengoptimalkan posisi janin. Dan memang, yang penting ketika dicari itu biasanya ngumpet entah dimana.  Stagen pun hilang.  Akhirnya kami bertiga plus Ayah Al dan Al yang saat itu masih manja pasca sakit 'jalan-jalan' alias beli stagen dan makan-makan biar hati makin riang.

Sepulangnya, Bidan Ari menstagen perutku sehingga posisi janin menjadi lebih vertikal. Semalaman dengan kondisi tersebut ternyata banyak berpengaruh.  Kontraksi datang kian intens meski belum teratur. HPL yang diperkirakan dokter yaitu tanggal 14 Mei pun sepertinya dipatahkan dengan hadirnya gelombang sayang dari El,  calon member baru keluarga kami yang juga lahir di Bulan Mei seperti kami bertiga.

Awalnya Senin (8/5) pagi aku masih berencana masuk kantor.  Tapi semakin pagi gelombang Cinta semakin rajin datang. Akhirnya kuurungkan niat dan meminta Ayah berangkat kerja membawa mobil agar ketika ada kabar bisa segera pulang. Pukul 04.30 ibu Al ini semangat sekali mandi air hangat. Dengan sedikit bermake up plus menyemprotkan parfum favorit, aku terlihat yakin akan bertemu mahluk lucu hari itu. Sambil menunggu Al bangun, akupun semangat sekali beberes rumah biar rumah terlihat lebih rapi dalam rangka menyambut si ade.

Setelah mandi, ga nyangka si calon kaka ini kondusif sekali. Makan sendiri dan main tanpa ngerengek sedikitpun sembari ibunya bermain birthing ball saat gelombang datang. Hormon oksitosin pun meningkat waktu tiba-tiba gojek datang membawa orderan nastar hangat dari @nanzcupcake yang sedari kemarin diidamin. 

Pukul 14.00 duo bidan kembali datang untuk menemaniku yang pagi itu seperti Ratu. Ternyata saat kita rilex, ga diburu2, dan dibuat ngobrol seru justru mempercepat proses. Apalagi disuapin kiwi sama bidan cantik Ira. Buktinya gelombang datang semakin teratur. Disela-sela waktu, dari toilet saat BAK kudengar bidan Ari bertanya.  "Kak Al kira2 dede El lahir kapan?"/"Kayanya sih hari ini.. "ujarnya polos sambil nonton video /"jam berapa kak? "/"Ngga tau.. "/"Sebelum atau setelah magrib? "/"kayanya sih setelah magrib". Aku gak pernah tahu kalau celoteh-celoteh polos Al ini menjadi jawaban kapan El lahir karena ia memang lahir tepat setelah adzan magrib yaitu pukul 18.15.

Dan.. karena semua kelaparan, pukul 15.00 masih sempat aku memesan GoFood dengan menu pendukung kontraksi: Spesial sambal.  ahaiii.. ditengah2 makan sempat kontraksi 2x. Sentuhan tangan bidan Ari di pinggul saat gelombang datang sangat membuatku lebih nyaman. Saat kontraksi datang,  memang betul kata salah satu komunitas, jangan dilawan. "Lemesin aja shay..." nafas, nafas,  dan nafas. Karena gelombang semakin teratur dengan jeda semakin pendek dan durasi semakin panjang, setelah sesi makan selesai, Bidan Ari melakukan VT untuk dijadikan patokan kapan Ayah yayan segera pulang untuk menuju Rumah Bersalin atau RS. Hasil VT menunjukkan sudah ada bukaan 3 menuju 4. Ayahpun merespon "Oke, ayah ijin pulang" setelah kukabari. Yaaa..  dibayangan 2 jam bisa sampai rumah lah ya.. Okey.  Semua pun tenang. Si calon kakak terlihat mendekat ke ibu untuk mengusap keringat ibu sambil berkata "Semangat ya ibu.. ".

Gak disangka gelombang Cinta level atas datang sangat cepat.. Tapi aku sadar aku bisa mengatasinya. Segala posisipun dicoba guna mencari posisi nyaman. Dari duduk di bola,  peluk bola,  tiduran,  sampai nungging. Badan ini pun reflex masuk kamar utama dengan kondisi cahaya remang-remang. Tirai tertutup hanya diterangi cahaya lampu tidur. Mirip kucing saat melahirkan ya?  Dia secara instingtif memilih suasana yang tenang dan sunyi guna mengaktifkan hormon Cinta, oksitosin, yang akan berperan besar dalam keberhasilan proses melahirkan. Sungguh berbeda saat eksekusi melahirkan Al. Terang, dingin, tidak ada privasi, bising dan banyak intervensi. 

Suara-suara yang keluar dari mulutku beserta nafas saat menghadapi kontraksi membuat Al bertanya "Ibu kenapa tante..?? "/"Kak Al dedek El sebentar lagi mau lahir, ibu sedang menghadapi kelahiran adek" kalau tidak salah dengar kira-kira seperti itu percakapan mereka.

Sampai akhirnya pukul 17.00, ayah tak kunjung datang sementara gelombang Cinta semakin bergelayut manjah. Beberapa kali Kakak Al menghampiri dan menawarkan tangannya.  "Pegang tangan aku ibu.. " Subhanallah.. Meski gak ada ayahnya, tapi anak ini tahu betul betapa aku perlu dukungan. Sementara menghadapi kontraksi yang semakin kuat,  aku bertanya dalam hati "Kok aq ga suru ngapa2in ya,  kok ngga di vt lagi,  tapi kok udah semakin kuat gelombangnya? udah boleh eksekusi belum?" sampai aq berumam sambil mendesah "Mba ari aq kudu ngopo ikih.. wes kroso pengen ngedenhhh.. " baru sesaat itu celana dalamku dilepas dan dilihat.  "Hm..  iya mba sudah bisa nih.. " ujarnya santai..  sementara aku masih berfikir,  kok ga diberi aba-aba seperti dirumah sakit ya? Ini udah lengkapkah bukannya? Dan sampai saat aku mengejan dengan sendirinya pun dibiarkan oleh kedua doulaku itu. Yang berbeda dari persalinan pertama, kali ini dari awal sampai akhir aku dengan sadar merasakan semua tanda-tanda persalinan. Bahkan untuk urusan mengejan pun bukan siapa-siapa yang memberi komando bahkan bukan diriku sendiri melainkan tubuhku. Sempat bertahan dengan posisi bersandar, berdiri, dan berbaring miring, tapi insting mamaliaku membawaku ke posisi berlutut sambil bersandar ke kasur. 2 kali kontraksi aku dengan sadar merasakan kepala El masih keluar masuk.  Kudengar suara Al "Ayo bu semangat..  kepala Ade sudah kelihatan.. ". Di kontraksi ketiga kepala El sudah mengunci Al pun kembali berujar antusias "Ibu..kepala Ade udah keluar.. lucu sekali bu.." dan..  akhirnya Baby El pun meluncur ditangkap Bidan Ari pukul 18.15 WIB dengan didampingi Al. 

Alhamdulilah...  Lega... bahagia... meskipun Ayah Baru datang pukul 20.30 tetapi peran Al sungguh luar biasa. Ibu makin sayang sama kamu nak. Saat IMD pun dia membawakan air minum saat kumintai tolong.  Ya Allah.. terima kasih Kau mengirimkan Al sebagai anak kami.. Dia anak yang luar biasa..  Hamba bersyukur ya Allah.. 

Pasca persalinan IMD kami lakukan berjam-jam dan DCC selama 3 jam yang mana pemotongan dilakukan oleh ayah setelah mengumandangkan adzan yang tertunda.

Berbeda dengan persalinan yang pertama,  meski sudah paham mengenai Gentle Birth namun pendamping persalinan yang tepat dan sejumlah persiapan tetap menjadi satu kunci keberhasilan. Karena sempat mengalami KPD pada saat melahirkan Al, mulai dari awal kehamilan aku afirmasi dan visualisasi bahwa selaput ketubaku kuat,  dan itu alhamdulilah berhasil. Disini pun aku bisa benar-benar terhubung dengan maunya tubuhku dan bayiku. Keberhasilan ini tak lepas dari sejumlah persiapan lain seperti hypnobirthing, rutin Yoga, menetapkan plan A, B, C dengan masing-masing birth plan yang kesemuanya dipersiapkan dengan cara gentle.  Dan akhirnya,  persiapan yang paling penting adalah pasrah atau legowo. Ternyata ini jalan yang dipilih El untuk bertemu dengan kami. Bersalin dirumah dengan di dampingi kakaknya. Alhamdulilah Ya Allah..  semuanya berjalan dengan lancar dan Indah.. Terima Kasih Kau telah memberiku kesempatan merasakan sebuah rangkaian Indah dalam menyambut titipanmu El Zhafran Najendra.

Terima kasih yang sangat dalam untuk kedua doulaku yang luar biasa Bidan Arifatun dan Bidan Nanda Ira Novita yang telah menjadi bagian penting dalam persalinan Indah ini.  I love you guys.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar