Selasa, 18 Januari 2011

Child oh child

18.30 : Kereta belum juga berjalan
Sepertinya hari ini saya kurang beruntung. Dari awal keberangkatan saya ke stasiun untuk pulang kampung sudah diliputi kesialan. Dari salah naik bis kota karena kondektur yang menyebalkan dan membual bahwa bisnya melewati stasiun yang saya tuju. Nyatanya saya diturunkan di jarak kurang lebih 400 meter yang mengharuskan saya berjalan kaki. Kemudian keterlambatan kereta selama 1,5 jam, belum lagi kereta yang saya tumpangi harus  ’berobat’ ke depot yang menguras wakt hingga 45 menit.
Hampir seluruh penumpang di kereta ini beraut wajah sama. Kesal, lelah, khawatir, tidak tahu harus bagaimana di depot kereta dengan bau solar yang sangat menyengat. Tetapi tidak bagi seorang bapak di samping saya yang selalu terseyum dan beberapa kali saya jumpai matanya menatap wajah saya dengan seksama. 5 kali.. tidak, 8 kali, hm.. mungkin lebih dari 20 kali. Dan sepasang ibu dan anak di depan saya yang menurut saya sangat.. i dont know how to explain. Anaknya, laki-laki berusia sekitar 2,5 sampai 3 tahun dengan tingkah lucu yang selalu ingin mencium dan membelai ibunya. Sang ibu yang sabar dan sering memberikan gurauan-gurauan sehingga membuat anaknya tertawa. Hm.. saya membayangkan jika saya adalah seorang ibu itu. Apakah saya bisa?

18.55 : Kereta sudah mulai berjalan
Tiba-tiba saya teringat status Ariey tentang bagaimana ia mengurus Altaf dan seketika itu saya membayangkan what will happen to me after marriage. Will it be fun, so so, or even sucks. Kekhawatiran saya bukan tidak beralasan. Tapi dengan kondisi pra nikah ini saja, keadaan sering memanas. Bahkan tak jarang menjadi out of control. Saya merasa sifat saya sangat menyebalkan. Tidak hanya kepada calon pasangan hidup saya, juga kepada orang lain.
Dalam kekhawatiran saya, saya juga membayangkan tentang kehadiran seorang anak. Sementara saya sepertinya terlalu egois dan masih mencintai kehidupan saya sendiri. Saya merasa saya belum tahu apa yang benar-benar saya inginka mengenai konsep anak. Saya seolah-olah mengerti apa yang dialami Elizabeth Gilbert dalam bukunya Eat Pray Love (padahal saya belum menikah). Hal ini berkaitan dengan mental, jarak saya dengan pasangan, waktu, tenga dan ditambah kondisi ekonomi kami berdua benar-benar belum stabil. Ya benar, tabungan kami hampir terkuras untuk persiapan pernikahan ini. Saya teringat kalimat Deborah – sahabat Elizabeth, red – bahwa mempunyai anak itu seperti membuat tato di mukamu. Artinya kita harus benar-benar mempertimbangkannya dengan matang. Hm.. sepertinya saya dapat mendengar kalian berteriak “Wulan, please.. semua itu akan berjalan begitu saja. Kamu tidak perlu terlalu khawatir karena semuanya akan baik-baik saja”. Haha sepertinya saya sedikit aneh. Saya selalu dapat merasakan 2 sisi persepsi yang berbeda. Dari sudut pandang saya yang subjektif dan dari sisi orang lain, dari sisi negatif dan positif. Namun sayangnya sisi negatiflah yang sering memenangkan kompetisi kecil yang terjadi di otak saya.

07.20 : Semua orang sudah mulai tersenyum
Seorang bapak di sebelah saya masih saja terlihat aneh dengan tingkah hiperaktif yang selalu ingin menggeser tempat duduknya maupun semua tas-tas yang ia bawa. Sesekali bola matanya menghampiri wajah saya. Ibu dan anak di hadapan saya masih dengan drama yang menyenangkan. Sang ibu memakaikan topi rajutan dan jaket ke anak lelakinya itu karena cuaca semakin dingin. Hm.. I wanna be like her someday.
Guys, walaupun blog ini sudah terbentuk dan merupakan media satu sisi untuk curhat, saya tetap mengharapkan kita berlima berada di satu kota. Menurut saya, ucapan, semangat, saran, kritik, telunjuk, telinga dan mulut yang satu sangat berguna bagi yang lain.
Lamunan saya tertuju pada keadaan kita di masa datang. Dengan kondisi kita yang berada di kota yang berbeda. Setiap tahun kita mengadakan reuni atau arisan di salah satu kota secara bergantian. Di Tuban, Solo, Semarang, Bogor, Jakarta atau dimanapun. Sepertinya itu sangat menyenangkan.
Inget gak moment bersejarah ini? Pengen gak ngulangi lagi?
07.30 : Hujan turun
Sang anak duduk dipangkuan ibunya sambil memainkan jarinya. Saya masih tertegun bagaimana mungkin anak sekecil dia dapat duduk dengan tenang dengan waktu yang cukup lama di tempat yang tidak senyaman ini.

C o n f e s s i o n

As we know that beberapa bulan yang lalu one of us – Mbem – sudah mulai bekerja. Sayapun tidak pernah tahu dimana dan ditempat apa ia bekerja. Pernah suatu ketika saat pertama kali mendengar kabar tersebut, saya langsung SMS “Mbem, aq di Solo lho, kumpul yuk!” dengan berharap ia cerita what was going on her. But, there is no respon. Mungkin beberapa dari kita mengalami hal yang sama. Saat itu saya berfikir, apa yang ada di benak Mbem untuk tidak merespon dan menjelaskan apa yang terjadi. Sebisa mungkin saat saya tidak dalam kondisi baik – kesal tepatnya -, saya berusaha menempatkan diri saya dipihak orang lain. Saat saya bekerja sebagai sales kartu kredit sekalipun saya tidak malu untuk bercerita dan berkeluh pada kalian. Saat Ariey bekerja di radio, ia juga menceritakan berita itu pada kita. Saat itu saya hanya butuh balasan ”Gw gak di Solo lan. Sekarang gw gawe di XXYYZZ”, that’s it. Mungkin kalian bertiga sudah tahu karena sudah bertemu 2 minggu yang lalu di Solo. Tapi sampai saat ini, saat ditanya mengenai kalian masing-masing, dan saat pertanyaan itu tertuju pada Mbem, tentu saya akan menjawab ”tidak tahu” karena itulah yang terjadi.
Still, itu hak siapapun untuk bercerita atau tidak mengenai apapun. Itu hak Mbem. Tentunya sebagai seorang teman dan bagian dari Camisole saya akan senang jika yang Mbem tell me directly about that.
Hm.. confession is confession right. Lil bit hard but better to say than nothing. Maaf ya Mbem..


- Wulan -

1 komentar:

  1. seringkali dalam hidup yg sdh masing2 kita lalui,ada sekali hal2 yg benar2 di luar kehendak.keinginan,rencana kita termasuk hal2 kecil yg ternyata sangat menganggu keadaan kita pada saat itu terjadi,as we grow old kita ternyata harus sdh siap dgn konsekuensi yg ada bahkan hal2 yg jauh lebih ajaib dari yg kita perkiraan termasuk akhirnya salah satu keputusan besar dalam hidup yakni menikah,it's not easy thing dear(saya sdh mengalaminya)it's not about us tp a whole family dan hal2 lain yg akan membuat kita dewasa jika disikapi dgn baik,dan hal ini salah satunya adalah anak,wulan as ur bestfriend saya tidak akan mengatakan 'wulan please semuanya akan berjalan baik2 saja' ketika memtuskan punya anak,.saya setuju dgn sahabat elizabeth bahwa punya anak memang harus disertai dgn perencanaan yang matang ini menyangkut segala aspek dlm kehidupan rumah tangga kita bukan hanya soal kesiapan materi yg saya yakin seiring waktu kamu bisa mengatasinya dgn baik,tp yg jauh tdk kalah pentingnya adalah persiapan mental dlm hal ini psikologi kita dan pasangan,kesiapan kita secara utuh sbg orangtua.setelah punya anak banyak sekali kompromi yg harus kita lakukan,dari mulai anak lahir sampai nanti kita merasakan seperti orangtua kita(yg mana saya sangat super salut dgn masing2 orang tua kita dgn penuh cinta dan kesabaran membesarkan kita sampai skr)menjadikan anak2 kita tumbuh menjadi orang dewasa,saya rasa bnyk sekali tantangan yg kita hadapi,dan itu semua menginginkan perencanaan dan kesanggupan kita sbg orangtua.(he2 saya merasa sangat mak2 menyebut kalimat orangtua).tapi segala sesuatu yg kita jalani adalah proses pendewasaan dan siklus hidup kita sebagai manusia,jadi saya yakin kita semua bisa melewatinya wulan.

    BalasHapus